Archive for » 2010 «

Prangsangka Buruk atau saya lebih sering menyebutnya
“ Negative
Thinking “ seringkali menghingapi pikiran saya. Seringkali saya suka menebak-nebak “ Dia kok begitu banget yah? Jutek banget sama saya ! Dia pasti sebel sama saya…”. Kesukaan saya yang suka berprasangka buruk itu akhirnya menutup diri saya untuk berteman. Dan tentu saja bisa ditebak, saya lebih suka menarik diri dan menjadi autis karena ketakutan saya dengan sekeliling saya yang akan membicarakan saya, padahal itu hanya asumsi saya saja. Pada kenyataan teman saya masih menerima saya dan memperhatikan saya.


Hari ini, Tuhan memberikan teguran yang halus kepada saya, agar saya dapat mengubah itu. Entah kenapa, padahal jam di tangan saya sudah mengharuskan saya pergi dari rumah untuk berangkat ke kantor. Tapi hati ini, terus berbicara dan mendorong saya untuk segera bersaat teduh “ Coba deh buka buku renungan itu “. “ Iya, Tuhan. Saya tahu hari ini saya tidak saat teduh bersama Tuhan “ ucapku sambil meminta maaf ke pada Tuhan. Akhirnya saya membuka alkitab dan membuka renungan harian. Ketika saya mulai membaca Judulnya “ Prasangka Buruk “…Uppsss…sepertinya Tuhan mengetahui pikiranku.


Salah satu bagian dalam isi renungan harian yang menyadariku yaitu

Kristus meminta kita menjadi orang yang membawa pengaruh dalam hidup sesama. Bagai garam yang memberi rasa. Bagai terang yang membuat orang bisa melihat seperti apa Yesus itu. Namun, terang dalam diri kita bisa pudar jika hati kita dipenuhi prasangka buruk. Prasangka menciptakan ketakutan. Rasa takut membuat kita menutup diri.


Belakangan hari ini, saya sedang“ Negative Thinking “ lagi dengan teman-temanku…

Kenapa yah dengan mereka, sepertinya menjauhi saya dan tidak ingin berteman dengan saya …?“ dan pikiran itu terus mencengkram saya. Sehingga membuat saya terus memikirkan dan membuat saya mengurungkan diri untuk tidak saat teduh. “Aw! Kena Jackpot deh sama Tuhan” Ucapku dalam hati.


Selama ini,hati saya dipenuhi prasangka buruk dan prasangka itu menciptakan ketakutan dan membuat saya selama ini menutup diri saya. Yang membuat akhirnya, diri saya menjadi tidak berkembang.


Thanks GOD, ucapku! Ternyata Tuhan menyayangiku, Dia tidak ingin sampai saya menutup diri dan sampai tidak memiliki teman. Maka dari itu, Dia menegurku dengan halus pagi ini. Dia tahu, bahwa inilah yang selalu menghambat dan membuat semuanya tidak berjalan dengan lancar.


Renungan Harian yang ditulis oleh Juswantori Ichwan menekankan kita agar belajar berpikir


Positif Thinking” Bangunlah jembatan, bukan tembok. Anda akan mampu menjadi garam dan terang.


Dalam Matius 5 : 13-16


(13) Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.


(14)Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.


(15)Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

(16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Sering kali, Kita berprasangka buruk terhadap orang lain.. Padahal, belum tentu mereka seburuk yang Anda bayangkan. Pada hari ini Tuhan ingin saya dan anda , menjadi garam dan terang. Agar mereka bisa melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di surga.

Sumber : Juswantori Ichwan [www.renunganharian.net]

PRASANGKA BAIK MEMAMPUKAN ANDA MENJANGKAU SESAMA

PRASANGKA BURUK MEMENJARAKAN ANDA DARI MEREKA

Category: Renungan  4 Comments

Tiap Komponen produk nasional mencerminkan macam pengunaan hasil produksi yang dihasilkan oleh perekonomian. Dari segi lain dapat pula dikatakan bahwa tiap komponen menunjukkan besarnya pengeluaran atau expenditure dari masing-masing sektor perekonomian.

Ada 4 sektor setiap perkenomian bangsa yaitu

  1. Sektor keluarga, yang biasa disebut sektor Konsumen, household sector atau personal sector
  2. Sektor perusahaan, yang biasa disebut sektor produsen atau business sector
  3. Sektor Pemerintah, yang biasa juga disebut goverment sector, dan
  4. Sektor Perdangangan luar negeri atau foreign trade sector

Sektor swasta terbentuk oleh karena kedua faktor pertama Sektor keluarga dan sektor perusahaan.

Pengeluaran yang dilakukan oleh keluarga disebut pengeluaran konsumsi atau consumption Expenditure

Pengeluaran perusahaan yang merupakan komponen produk nasional ialah pengeluaran investasi atau investment Expenditure.

Pengeluaran yang dilakukan oleh sektor pemerintah yang langsung turut dalam pembentukan produk nasioanal berupa pengeluaran pemerintah, ialah pengeluaran pembelian pemerintah.

Komponen produk nasional yang berasal luar negeri ialah variabel ekonomi ekspor netto.

A. Pengeluaran Konsumsi (C)

Pengeluaran konsumsi atau private consumption expenditure meliputi semua pengeluaran rumah-rumah tangga keluarga dan perseorangan serta lembaga-lembaga swasta bukan perusahaan untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang langsungn dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh pembelian barang yang tahan lama yang baru seperti Truk, Televisi, Sepeda motor selain bangunan rumah tergolong sebagai variabel ekonomi pengeluaran konsumsi.

B. Pengeluaran Investasi ( I )

Pengeluaran investasi domestik bruto atau gross private domestic investment meruapakan sebutan lengkap dari variabel ekonomi agregatif. Variabel ekonomi ini meliputi semua pengeluaran domestik yang dilakukan oleh sektor swasta untuk mendirikan bangunan-bangunan baru, mesin-mesin baru beserta perlengkapannya dan perubahan jumlah berbagai macam persediaan perusahaan

C. Pengeluaran Pembelian Pemerintah ( G )

Pengeluaran Pemerintah untuk barang dan jasa atau goverment purchase of goods and services yang sering disingkat pengeluaran pemerintah atau goverment expenditure.

Pengeluaran-pengeluaran pemerintah seperti misalnya pembayaran pensiun, bea siswa,subsidi dalam berbagai bentuknya, dan berbagai macam bantuan finansial yang diberikan kepada sekor swasta tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori ini, melainkan harus dimasukkan ke dalam transfer (Tr).

D. Ekspor Netto ( X-M)

Variabel Ekonomi agregat ini merupakan hasil pengurangan nilai total impor (M) terhadap nilai total ekspor (X). Jika neraca perdangangan dalam keadaan pasif, dimana nilai impor barang dan jasa lebih besar bertanda positif daripada nilai ekspor barang jasa, maka nilai ekspor netto bertanda negatif.

bentuk kesamaan matematik yang dapat kita sebut sebagai kesamaan produk nasional atau national product identity

Y = C+ I+ G+( X – M )

Category: Bisnis  Leave a Comment

Hal-hal yang diperlukan seorang penjual ?

  1. Menghemat Waktu

  2. Berbicara yang perlu

  3. Tepat pada sasaran

  4. Meraih omzet terbanyak dengan cepat

  5. Mendorong pembeli cepat mengambil keputusan

  6. Menyediakan produk dengan tepat

  7. Meningkatkan jumlah kunjungan

  8. Meningalkan konsumen tampa sakit hati

  9. Menutup Penjualan :

Win-win Solution, jika anda mempergunakan dengan win-win solution, kedatangan anda pasti ditungu-tunggu oleh konsumen setiap saat, tetapi yang harus diingat sering kali salesman melakukan penjualan dengan cara hit dan run, sehingga bila ada kekecewaan di pihak konsumen, seorang konsumen tak dapat berbuat apa-apa, INILAH YANG MEMBUAT CITRA BURUK BAGI PENJUAL


Semua isi dunia ini adalah ibarat sebuah gudang dan semua orang adalah penjualnya, maka dari itu semua orang berusaha memindahkan isi pikirannya kedalam kepala orang” Arthur Brisbane

Category: Bisnis  Leave a Comment

Bisnis tidak mungkin berjalan, jika tidak ada konsumen yang mengunakan produk atau jasa yang dibuat dan ditawarkan oleh bisnis. Dalam hal ini tentu saja tidak cukup, bila konsumen tampil satu kali saja pada saat bisnis dimulai. Supaya berkesinambungan , perlulah konsumen yang secara teratur memakai serta membeli produk atau jasa tersebut dan dengan demikian menjadi pelanggan.

Peter Druncker, perintis teori Manajemen :peranan sentral pelanggan atau konsumen dengan menandaskan bahwa maksud bisnis adalah bias didenifisikan secara tepat sebagai to create customer.

Konsumen harus diperlakukan dengan baik secara moral, tidak hanya saja merupakan tuntutan etis, melainkan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan dalam bisnis. Etika dalam pratek bisnis sejalan dengan kesuksesan dalam berbisnis

Posisi konsumen sering kali agak lemah, mengapa bisa demikian ?

  1. Daya belinya seringkali tidak seperti diinginkan , sehingga ia tidak sanggup mengungkapkan preferensinya yang sesunguhnya. Apa yang pada kenyataan dibeli konsumen, belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya ingin dibelinya.

  2. Pengetahuan tentang produk atau jasa yang tersedia di pasaran kerap kali tidak cukup untuk mengambil keputusan yang tepat.

  3. Konsumen tidak mempunyai keahlian maupun waktu untuk secara seksama menyelidiki tepat tidaknya mutu dan harga dari begitu banyak produk yang ditawarkan.

Oleh karena itu bisnis mempunyai kewajiban moral untuk melindungi konsumen dan menghindari terjadinya kerugian baginya.

Perhatian untuk konsumen

1.Hak atas keamanan.

Konsumen berhak atas produk yang aman, artinya produk yang tidak mempunyai kelsahan teknis atau kesalahan lainnya yang bisa merugikan kesehatannya atau membahayakan hidupnya.

Bila sebuah produk karena hakikatnya selalu mengandung resiko

Contohnya: gergaji listrik-risiko itu harus dibatasi sampai tingkat seminimal mungkin.

2.Hak atas informasi

Konsumen berhak mengetahui segala informasi yang relevan mengenai produk yang dibelinya, baik apa sesunguhnya produk itu, maupun bagaimana caranya memakainya, maupun juga resiko yang menyertai pemakainnya.

Contohnya pada label sebuah produk haruslah benar: isinya,beratnya,tanggal kadaluarsa, ciri-ciri khusus dan sebagainya.

3.Hak untuk mendengarkan

Konsumen berhak untuk memilih pelbagai produk dan jasa yang ditawarkan. Kualitas dan harga produk bisa berbeda. Konsumen berhak untuk membandingkan, sebelum mengambil keputusan untuk membeli.

4.Hak Lingkungan hidup

Konsumen berhak menuntut bahwa dengan memanfatkan produk ia tidak akan mengurangi kualitas kehidupan di bumi ini. Dengan kata lain, ia berhak bahwa produk itu ramah lingkungan

5.Hak konsumen untuk pendidikan

Konsumen juga mempunyai hak juga untuk secara positif dididik ke arah itu. Terutama di sekolah dan melalui media massa, masyarakat harus dipersiapkan menjadi konsumen yang kritis dan sadar akan haknya. Dengan demikian ia sanggup memberikan sumbangan yang berarti kepada mutu kehidupan ekonomi dan mutu bisnis pada umunya.

Tanggung jawab bisnis untuk menyediakan produk yang aman.

Dalam literatur etika bisnis amerika, topik ini disebut product liability. Dimana apakah produsen bertanggung jawab, bila produknya mengakibatkan kerugian bagi konsumen dan kalau memang begitu, apa yang menjadi dasar teoritas untuk tanggung jawab tersebut. Jadi apakah suatu produk yang baru dibeli dan dipakai, produsen maupun konsumen masing-masing mempunyai tanggung jawab.

Untuk mendasarkan tanggung jawab produsen, telah dikemukan tiga teori yang mengandung nuansa yang berbeda:

1. Teori Kontrak

Hubungan antara produsen dan konsumen sebaiknya dilihat sebagai sebagai semacam kontrak dan kewajiban produsen terhadap konsumen di dasarkan atas kontrak itu. Jika konsumen membeli sebuah produk, ia seolah-olah mengadakan kontrak dengan perusahaan yang menjualnya.

Pandangan kontrak ini sejalan dengan pepatah Romawi Kuno yang berbunyi “caveat emtor “,” hendaklah si pembeli berhati-hati”. Sebagaimana sebelunya menandatangani sebuah kontrak, kita harus membaca dengan teliti seluruh teksnya,termasuk huruf-huruf terkecil sekalipun demikian juga si pembeli dengan hati-hati harus mempelajari keadaan produk serta ciri-cirinya, sebelum dia membayar ia menjadi pemiliknya. Transaksi jual-beli harus dijalankan sesuai dengan apa yang tertera dalam kontrak itu dan hak pembeli maupun kewajiban penjual memperoleh dasarnya dari situ.

2. Teori Perhatian Semestinya

Pandangan ini menyatakan bahwa konsumen selalu ada di posisi lemah, karena produsen mempunyai jauh lebih banyak pengetahuan dan pengalaman tentang produk yang tidak dimiliki oleh konsumen. Kepentingan konsumen disini dinomorsatukan. Karena Produsen berada dalam posisi yang lebih kuat dalam menilai produk , ia mempunyai kewajiban menjaga agar si konsumen tidak mengalami kerugiandari produk yang dibelinya. Produsen bertanggung jawab atas kerugian yang dialami si konsumen dengan memakai produk, walaupun tanggung jawab itu tidak tertera dalam kontrak jual-beli.

3. Teori Biaya Sosial

Teori Biaya sosial menegaskan bahwa produsen bertanggung jawab atas semua kekurangan produsen dan setiap kerugian yang dialami konsumen dalam memakai produk tersebut. Hal ini berlaku juga, jika produsen sudah mengambil semua tindakan yang semestinya dalam merancang serta memproduksinya produk bersangkutan atau jika mereka sudah memperingatkan konsumen tentang risiko yang berkaitan dengan pemakain produk

Kesimpulannya bahwa teori pertama dan kedua paling penting sebagai pendasaran moral bagi tanggung jawab produsen.


Category: Bisnis  Comments off

“THE Ant and the Grasshopper,” a fable by Aesop, provides a moral lesson about hard work and saving.

During the warm months, the ant worked hard to store up food for the winter while the grasshopper sang and played.

When winter arrived, the grasshopper asked the ant for food because it had none. In today’ world, China is like the ant and America is like the grasshopper.

America tends to focus on enjoying today instead of preparing for tomorrow. This trait has led to a nation of debtors. And, like the grasshopper, our lack of savings may lead to our demise.

The grasshopper’s indulgence only affected its own life and not the lives of others. In America, however, that is not the case. America’ indulgence will negatively affect future generations in the form of debt.

America’ federal debt is almost US$14 trillion and rapidly rising. Yet the government is still spending more money than it collects in taxes.

For the 2010 budget year, it spent about US$1.3 trillion more than it collected – the second-largest deficit in American history. For the 2009 budget year, it spent roughly US$1.4 trillion more than it collected – the largest deficit in American history.

If we don’t pay down the federal debt, our children and grandchildren will end up paying for our excesses plus compound interest.

Part of the American Dream is making life better for future generations. A recent poll by Bloomberg found that a majority of Americans are not confident or are just somewhat confident their children will have better lives than they have.

While the American Dream is eroding, members of Congress fail to cut spending that would reduce our deficits and debt, and thus we continue to sing and play like the grasshopper.

America used to invest in the future. From highways to high-rises, we used to build stuff that was the envy of the world. Now we mostly consume.

Meanwhile, China is busy storing up food for the winter. China tends to focus on preparing for tomorrow instead of enjoying today. This trait has led to a nation of creditors. And, like the ant, their savings will help them survive.

When comparing net national savings as a proportion of Gross National Income from the mid-1990s to 2005, American savings decreased from over 5 percent to nearly zero and Chinese savings increased from roughly 30 percent to almost 45 percent.

In Aesop’s fable, the grasshopper asked the ant for some of the food it saved but the ant refused. In the metaphor I’m using here, however, China is lending America some of its savings – with interest, of course. In fact, China is the largest foreign lender to America.

We’ve been borrowing money from China at very low interest rates to finance our current account deficit. China’s savings helped to finance America’s debt habit.

China has currency reserves of US$2.5 trillion, of which roughly 70 percent are dollar-denominated. The Chinese are exposed and will lose if the purchasing power of the dollar falls and/or the price of US government bonds fall.

The grasshopper’s problems now threaten the ant.

Because America is experiencing record-high budget deficits and appears to be on an unsustainable fiscal course, the Chinese have been gradually reducing their exposure by cutting back their holdings of US Treasuries and diversifying in other nations’ bonds. But it is not likely they will make dramatic reductions because they need a strong American dollar.

Kenneth Lieberthal, a senior fellow specializing in China at the Brookings Institution, recently said: “I don’t think we’re going to see any massive flight from China’s holdings of US debt. That would be self-defeating and they well recognize that.” However, other nations could also become nervous and reduce their holdings of US Treasuries.

Sumber :

http://www.shanghaidaily.com/article/?id=456742&type=Opinion

Category: Article  Leave a Comment
06
Dec

Hidup itu akan terasa nikmat,tergantung bagaimana kamu menemukan cara untuk menikmati hidup ini :)

Mengucap syukur adalah cara yang paling mudah untuk anda melihat bertapa indahnya dunia ini..tetapi seringkali, kita tidak mengucap syukur.Itulah sebabnya membuat anda tidak bisa melihat bertapa indahnya dunia ini..

Coba deh, jika anda bangun di pagi hari..ucapkan satu kata ” Semangat ” pasti, itu akan membuat lebih bertenaga karena perkataan yang positif akan mengeluarkan hal yang positif juga


By : Dessy Franssisca

MY friends with teenagers tell me that when they say something old-fashioned their children admonish them: “Oh, mom (or dad), that is soooooooooooo 20th century.”

An example of atavistic 20th century thinking is to see politics divided between right and left. Ideology is a poor – and at times catastrophic – guide to managing society. The political “ism” of the 21st century must be pragmatism. The goal is to achieve the maximum degree of social justice, individual well-being and personal freedom.

The key question of the 21st century is not whether you are on the left or on the right, but whether you are “open” or “closed.” This applies to nations, firms, institutions and individuals. To be closed is simple and perhaps the visceral human reaction. To be open is a much greater challenge.

Openness means open to ideas, objects and people. The rise of the West from the Renaissance onwards, contrary to what is often assumed, owes a great deal to borrowings from Arabic, Persian, Indian and Chinese civilizations.

The value of openness to people from outside can be illustrated from multiple examples.

In the 12th century, Cordoba (in Spain) was a flourishing center of science and civilization as Islamic, Jewish and Christian scholars cross-fertilized. With the inquisition and the expulsion of Jews and Arabs, Cordoba (as the rest of Spain) became and remained for a long time a stagnant backwater.

As the Japanese economic miracle dazzled the planet in the 1960s, Japanese policy makers sought to establish a global center of science and innovation. Among many initiatives was the founding of Tsukuba Science City in Ibaraki prefecture. Because Japan is not open to foreigners, Tsukuba never took off. Everyone knows Silicon Valley and no-one knows Ibaraki because the former is the world’s most amazing hodgepodge of nationalities and ethnicities, while the latter is emphatically not.

From the outbreak of World War I to the implosion of the Soviet Empire, the 20th century was marked by its extremist ideologies and ultra-nationalisms. It was a closed world. It has only been since the early 1990s that we have entered a world that is mainly open with some remaining closed pockets.

This is the environment in which business has been able to thrive. Markets have opened up as the pools of human, material and financial resources have greatly multiplied and diversified.

We must remember that what is open can close. In the last few years we have witnessed a resurgence of ethno-centricism, racism and intolerance. These reactionary forces are especially pronounced among the established G3 powers – the EU, Japan and the US – but also in some of the emerging countries.

Ask yourself if you favor openness? Has your openness awakened your intellectual curiosity and interest in fellow men so that today you feel you have a reasonable knowledge of, say, Indian, Chinese and Islamic culture?

When you go outside your familiar home landscape, do you inform yourself about its history, customs, demographics, and social dynamics?

There is a tendency for business executives to say “I am not interested in politics.” The fact is that politics is a reality of life, whether or not you are interested and it greatly impacts business. In the words of the great Irish 18th century political philosopher Edmund Burke: “All that is needed for the triumph of evil is for good people to do nothing.”

Similarly, all that is needed for the world to close again is for those who wish it to be open to be out to lunch!

(The author is Emeritus Professor of International Political Economy at IMD. He is also the Founding Director of the Evian Group at IMD. Shanghai Daily condensed the article.)

Category: Article  Leave a Comment
25
Nov

Coba deh, awali hari-hari kamu dengan sebuah langkah awal yaitu sebuah senyuman kecil …percaya deh! semuanya akan terasa ringan ..

Ketika kamu percaya bahwa kamu dapat meraih apa yang kamu inginkan :) percayalah, ada sebuah kekuatan yang membuat kamu memiliki sayap untuk meraih itu

Tau gak? Jika sebuah senyuman memiliki sebuah power :) ..Jadi, buat hari ini indah dengan senyuman anda, karena dengan tersenyum anda akan melihat dan menikmati bertapa indahnya hidup ini :)

Belajar dari ikan cere, Ikan yang bertahan sekalipun lingkungan tempat tinggal                 ( Selokan) berubah-berubah. Sama Halnya dengan kita , Sekalipun di sekeliling kita sering mengalami perubahan tetapi kita harus mampu bertahan menjadi diri sendiri :) ..

Tidak ada yang jauh lebih berharga selain HIDUP kamu dan saya.

By : Dessy Franssisca


Category: Motivasi  One Comment