Prangsangka Buruk atau saya lebih sering menyebutnya
“ Negative Thinking “ seringkali menghingapi pikiran saya. Seringkali saya suka menebak-nebak “ Dia kok begitu banget yah? Jutek banget sama saya ! Dia pasti sebel sama saya…”. Kesukaan saya yang suka berprasangka buruk itu akhirnya menutup diri saya untuk berteman. Dan tentu saja bisa ditebak, saya lebih suka menarik diri dan menjadi autis karena ketakutan saya dengan sekeliling saya yang akan membicarakan saya, padahal itu hanya asumsi saya saja. Pada kenyataan teman saya masih menerima saya dan memperhatikan saya.
Hari ini, Tuhan memberikan teguran yang halus kepada saya, agar saya dapat mengubah itu. Entah kenapa, padahal jam di tangan saya sudah mengharuskan saya pergi dari rumah untuk berangkat ke kantor. Tapi hati ini, terus berbicara dan mendorong saya untuk segera bersaat teduh “ Coba deh buka buku renungan itu “. “ Iya, Tuhan. Saya tahu hari ini saya tidak saat teduh bersama Tuhan “ ucapku sambil meminta maaf ke pada Tuhan. Akhirnya saya membuka alkitab dan membuka renungan harian. Ketika saya mulai membaca Judulnya “ Prasangka Buruk “…Uppsss…sepertinya Tuhan mengetahui pikiranku.
Salah satu bagian dalam isi renungan harian yang menyadariku yaitu
Kristus meminta kita menjadi orang yang membawa pengaruh dalam hidup sesama. Bagai garam yang memberi rasa. Bagai terang yang membuat orang bisa melihat seperti apa Yesus itu. Namun, terang dalam diri kita bisa pudar jika hati kita dipenuhi prasangka buruk. Prasangka menciptakan ketakutan. Rasa takut membuat kita menutup diri.
Belakangan hari ini, saya sedang“ Negative Thinking “ lagi dengan teman-temanku…
” Kenapa yah dengan mereka, sepertinya menjauhi saya dan tidak ingin berteman dengan saya …?“ dan pikiran itu terus mencengkram saya. Sehingga membuat saya terus memikirkan dan membuat saya mengurungkan diri untuk tidak saat teduh. “Aw! Kena Jackpot deh sama Tuhan” Ucapku dalam hati.
Selama ini,hati saya dipenuhi prasangka buruk dan prasangka itu menciptakan ketakutan dan membuat saya selama ini menutup diri saya. Yang membuat akhirnya, diri saya menjadi tidak berkembang.
Thanks GOD, ucapku! Ternyata Tuhan menyayangiku, Dia tidak ingin sampai saya menutup diri dan sampai tidak memiliki teman. Maka dari itu, Dia menegurku dengan halus pagi ini. Dia tahu, bahwa inilah yang selalu menghambat dan membuat semuanya tidak berjalan dengan lancar.
Renungan Harian yang ditulis oleh Juswantori Ichwan menekankan kita agar belajar berpikir
“Positif Thinking” Bangunlah jembatan, bukan tembok. Anda akan mampu menjadi garam dan terang.
Dalam Matius 5 : 13-16
(13) Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
(14)Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
(15)Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
(16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
Sering kali, Kita berprasangka buruk terhadap orang lain.. Padahal, belum tentu mereka seburuk yang Anda bayangkan. Pada hari ini Tuhan ingin saya dan anda , menjadi garam dan terang. Agar mereka bisa melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di surga.
Sumber : Juswantori Ichwan [www.renunganharian.net]
PRASANGKA BAIK MEMAMPUKAN ANDA MENJANGKAU SESAMA
PRASANGKA BURUK MEMENJARAKAN ANDA DARI MEREKA

sipp dess…
Bagusss buat direnungkan n dijalankan nih..
GBU~
Thx Yun
GBU..
Bagus sekali notesnya, Des.
Thanks pak Johnny
.. GBU